Terapi “Chiropractic”, Biarkan Tubuh Menyembuhkan Dirinya


Senin, 22 November, 2004 oleh: Gsianturi
Terapi “Chiropractic”, Biarkan Tubuh Menyembuhkan Dirinya
Gizi.net – SAKIT kepala, vertigo, leher kaku, serta nyeri punggung merupakan keluhan yang umum dialami banyak orang.

Acap kali keluhan seperti ini tidak terlalu digubris, bahkan oleh penderitanya. Namun, keluhan semacam itu sebaiknya tidak dianggap enteng karena lama-kelamaan dapat menurunkan kualitas kesehatan seseorang.

Orang biasanya mengonsumsi aspirin atau pelemas otot untuk mengobati sakit kepala atau kaku otot. Namun, pernahkah Anda mempertanyakan apa sebenarnya penyebab berbagai keluhan sakit yang selalu muncul itu? Apa yang membuat hidup terasa tak bisa lepas dari obat sakit kepala?

Saat ini sebagian orang yang sudah jengah dengan berbagai keluhan tersebut mendatangi klinik chiropractic (baca: kairoprektik) dengan harapan dapat menghilangkan keluhan mereka tanpa harus mengonsumsi obat lagi. Bahkan pasien penderita skoliosis (tulang belakang bengkok) karena bawaan lahir atau kecelakaan dapat menjalani terapi chiropractic.

Beberapa tahun terakhir di Jakarta dan Bali mulai bermunculan klinik chiropractic, yang dokternya masih didominasi oleh orang asing. Mereka mendapat izin praktik dari dinas kesehatan setempat. Sampai sekarang di Indonesia chiropractic masih dianggap metode penyembuhan tradisional. Sementara di luar negeri, chiropractic merupakan penyembuhan komplementer yang dapat dijalani berbarengan dengan perawatan medis.

Tinah Tan, dokter chiropractic atau biasa disebut chiropractor, mengatakan, chiropractic merupakan bagian dari ilmu kesehatan modern yang berfilosofi bahwa tubuh mempunyai kemampuan menyembuhkan dirinya sendiri (self-healing). Di luar negeri ilmu chiropractic merupakan bagian dari departemen ilmu kesehatan (health science), yang lulusannya menyandang gelar doctor of chiropractic (DC) di belakang nama mereka.

“Kemampuan tubuh untuk self healing itu dengan catatan susunan saraf harus bagus. Sebab, sistem saraf inilah yang mengontrol fungsi setiap sel tubuh, jaringan, organ, dan sistem tubuh,” ujar Tinah memaparkan, yang mempelajari chiropractic di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT).

Tinah menjelaskan, saraf- saraf pusat tersebut dilindungi oleh 24 tulang belakang yang menjulur dari leher (cervical spine) hingga pinggang (lumbar spine). Gangguan pergerakan (vertebrae subluxation complex) pada salah satu tulang belakang atau dislokasi (berubah tempat) ruas tulang belakang dapat mengiritasi sistem saraf, sekalipun pergeserannya hanya satu milimeter.

Iritasi itu akan menurunkan suplai neuron ke jaringan dan organ. Hal itu lalu mengakibatkan jaringan dan organ tubuh berfungsi tidak optimal, yang lalu menimbulkan berbagai keluhan seperti nyeri punggung, sakit kepala, vertigo.

“Obat memang hanya meredakan symptom (gejala-Red) saja. Tetapi, tidak memperbaiki penyebab munculnya rasa sakit itu. Rasa sakit itu seperti sebuah alarm alami tubuh untuk memberitahu kita ada yang tidak beres dengan tubuh,” kata Tinah menjelaskan.

Masalah pada tulang belakang terjadi, misalnya, akibat kebiasaan kurang baik, seperti tidur dengan posisi yang buruk, mengangkat barang dengan posisi salah, proses kelahiran, cedera olahraga, hingga trauma atau kecelakaan.

Masalah itu, menurut Tinah, pada awalnya boleh jadi tidak menyebabkan rasa sakit sehingga tidak disadari penderitanya. Namun, seiring berjalannya waktu iritasi pada saraf terus menerus terjadi karena dislokasi tulang belakang masih dibiarkan terjadi. Lama-kelamaan penderita baru merasakan berbagai keluhan nyeri pada tubuhnya. Bahkan peristiwa seperti pernah jatuh cukup keras pada masa kanak-kanak sekalipun bertahun-tahun kemudian baru dirasakan sakitnya.

“SEORANG chiropractor mirip seperti engineer khusus tubuh manusia. Dia membetulkan posisi tulang belakang yang tidak selaras atau bengkok ke posisinya yang benar. Koreksi yang kita lakukan seperti melakukan ketok magic,” seloroh Richard S Kane, dokter chiropractic asal Kanada yang berpraktik di bilangan Dharmawangsa, Jakarta Selatan.

Kane, yang telah mendalami chiropractic selama 30 tahun terakhir menambahkan, chiropractor mengoreksi dengan kedua tangannya melalui teknik- teknik tertentu, terkadang dibantu dengan peralatan khusus. Kata chiropractic berarti “dikerjakan dengan tangan” sehingga obat dan operasi bukanlah tindakan yang diambil chiropractor.

Salah satu teknik yang digunakan-secara awam-tampak seperti penekanan-penekanan pada bagian-bagian tertentu tubuh. Acap kali chiropractor juga memerlukan foto rontgen tulang belakang untuk memperjelas kondisi pada tulang belakang yang bermasalah.

“Chiropractor tidak menyembuhkan penyakit, melainkan sekadar membantu tubuh dengan membuatnya dalam kondisi optimum untuk menyembuhkan dirinya sendiri,” kata Anthony K Dawson menjelaskan, chiropractor yang berpraktik di kawasan Kuta dan Ubud, Bali. Penyelarasan tulang belakang itulah yang membuat tubuh pada kondisi optimum karena saraf-saraf pusat yang keluar dari susunan tulang belakang berfungsi maksimal untuk menyuplai neuron ke jaringan dan organ tubuh.

Pasien retak dan bengkok tulang belakang akibat kecelakaan juga dapat menjalani terapi chiropractic, seperti yang dilakukan oleh Tridoyo Hendrotomo (41). “Benturan hebat saat kecelakaan enggak bikin saya berdarah-darah, tetapi luka dalam, dan itu ternyata terjadi pada tulang belakang saya,” kata Tridoyo.

Ketika itu Tridoyo tidak mampu menegakkan tubuhnya dan merasakan sakit yang luar biasa pada daerah pinggang hingga menimbulkan rasa panas yang menjalar di seluruh punggungnya. Tridoyo bercerita, setelah kecelakaan terjadi dokter ortopedi yang menanganinya mengatakan bahwa dia harus menjalani operasi tulang belakang karena terjadi keretakan yang cukup serius.

Namun, setelah mencari pendapat lain dari seorang dokter ortopedi, dr Briliantono, ternyata tulang Tridoyo masih dapat diselamatkan tanpa operasi. Dokter itu lalu memberi Tridoyo semacam rompi khusus yang harus digunakannya untuk menyangga tulang belakang. Dia juga merekomendasikan Tridoyo menjalani terapi pemulihan tulang belakang pada dokter chiropractic.

“Setelah melihat hasil CT scan tulang saya yang terakhir, dr Briliantono bilang, jika dahulu tulang belakang saya dioperasi dan berhasil, hasilnya boleh dibilang sama seperti kondisi saya yang sekarang sudah membaik setelah terapi chiropractic,” ungkap Tridoyo, yang kini sudah dapat berjalan seperti sebelum kecelakaan.

Menurut Kane, tulang belakang Tridoyo yang retak itu sebenarnya sudah retak sejak lama. Hal itu bisa jadi disebabkan suatu benturan keras yang terjadi sejak lama, dan selama ini menyebabkan Tridoyo sering didera rasa sakit pinggang. Hal itu memang dibenarkan Tridoyo. Ketika terjadi kecelakaan, bagian yang telah retak dan rapuh menjadi semakin retak dan bergeser.

“Namun, setelah tulang belakangnya kembali selaras, bagaimanapun retak itu tetap ada. Pasien tetap harus merawat baik-baik tubuhnya,” kata Kane.

Sebelum mengikuti terapi chiropractic, sebaiknya Anda mencari tahu asal sekolah chiropractor yang berpraktik. Biasanya chiropractor memasang ijazah mereka pada ruang praktik. Sebab, sejauh ini asosiasi chiropractor di Indonesia belum resmi terbentuk. (SF)

Sumber:
http://www.kompas.co.id/

One thought on “Terapi “Chiropractic”, Biarkan Tubuh Menyembuhkan Dirinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s